Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS.Al-Ahzab:21)

Kamis, 31 Oktober 2013

MAKALAH TENTANG ARTI, TUJUAN DAN KAITANNYA DENGAN UNDANG-UNDANG SISDIKNAS


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dewasa ini, pandangan sebagian orang terhadap pendidikan hanya sebagai alat untuk mendapatkan suatu pekerjaan yang nantinya pekerjaan tersebut dianggap sebagai salah satu cara memenuhi  kebutuhan dan kesejahteraan hidup. Padahal tujuan pendidikan  tidak tertuju pada hasil akhirnya saja melainkan pada prosesnya.
Oleh karena itu, untuk membenahi pemikiran-pemikiran diatas, dibutuhkan solusi yang dapat mengubah pola pikir kearah yang lebih baik. Salah satunya adalah dengan cara penataan kembali apa arti dan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Karena pada dasarnya pendidikan merupakan salah satu kebutuhan bagi setiap manusia. Dengan pendidikan, manusia akan diarahkan pada peningkatan budi pekerti dan akhlak, perkembangan sikap dalam kemasyarakatan, kebudayaan, juga pengalaman sebagai bekal dalam memelihara kehidupannya.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut, menimbulkan permasalahan sebagai berikut.
1.      Apa yang dimaksud dengan pendidikan?
2.      Apa tujuan pendidikan?
3.      Bagaimana hubungan antara pendapat para ahli dengan UU sisdiknas?






1.3  Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Mengetahui arti pendidikan.
2.      Mengetahui tujuan pendidikan.
3.      Mengetahui hubungan antara pendapat para ahli dengan UU sisdiknas.

1.4  Manfaat
Manfaat dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Pembaca dapat mengetahui arti pendidikan.
2.      Pembaca dapat mengetahui tujuan pendidikan.
3.      Pembaca dapat mengetahui hubungan antara pendapat para ahli dengan UU sisdiknas.












BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Arti Pendidikan
Pengertian pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.
·      Menurut Para Ahli
Menurut George F. Kneller (1967:63), pendidikan memiliki arti luas dan sempit. Dalam arti luas, pendidikan diartikan sebagai tindakan atau pengalaman yang memengaruhi perkembangan jiwa, watak, maupun kemauan fisik individu. Dalam arti sempit, pendidikan adalah suatu proses mentransformasikan pengetahuan, nilai-nilai, dan ketrampilan dari generasi ke generasi, yang dilakukan oleh masyarakat melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, pendidikan tinggi, atau lembaga-lembaga lain.
Dari penjelasan George F. Kneller terdapat kata mentransformasikan yang berarti menyalurkan pengetahuan. Karena pada dasarnya, pendidikan bersifat mendidik yang nantinya akan mengubah segala aksi kita, dari tidak tahu menjadi tahu.
John Dewey (1950:89-90) memandang pendidikan sebagai sebuah konstruksi atau reorganisasi pengalaman agar lebih bermakna, sehingga pengalaman tersebut dapat mengarahkan pengalaman yang akan didapat berikutnya.
Penjelasan John, pendidikan lebih ditekankan kepada pengembangan kemampuan. Dari yang biasa-biasa saja menjadi lebih matang, tentunya didukung oleh berbagai pelengkap seperti media. Sehingga tujuan hidup dari seseorang bisa terwujud.
 Menurut Driyarkara ( 1945: 145 ), inti pendidikan adalah pemanusiaan matang manusia muda. Pada dasarnya pendidikan adalah pengembangan manusia  ke taraf insani.
Penjelasan Driyarkara, pendidikan merupakan proses pencarian jati diri, dimulai dari manusia muda menuju taraf insani. Selain itu, menurut Driyarkara arti pemanusiaan bisa dikatakan menjunjung martabat, semakin tinggi pendidikan seseorang maka orang tersebut akan lebih disegani dalam masyarakat.
Ki Hajar Dewantara ( 1977:20 ) menyatakan bahwa pendidikan merupakan tuntutan bagi pertumbuhan anak-anak. Artinya pendidikan menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada diri anak-anak, agar mereka sebagai manusia sekaligus sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Penjelasan Ki Hajar Dewantara lebih menjelaskan kepada tujuan dari pendidikan, setiap anak yang sudah menempuh pendidikan diharapkan dapat menemukan kebahagiaan dan keselamatan hidup, baik yang berhubungan dengan kehidupan sosial, ekonomi, dan lain sebagainya.
·      Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
Di dalam Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Penjelasan dari Undang-Undang sisdiknas, pendidikan adalah usaha untuk menentukan bagaimana cara belajar yang disenangi sehingga seseorang bisa mengembangkan bakat dan potensi dirinya.
Dari penjelasan-penjelasan diatas, pendidikan merupakan sebuah proses transfer pengetahuan oleh lembaga atau perorangan sehingga yang tadinya belum mengerti menjadi lebih mengerti. Dimana dengan pengetahuan yang didapat itu bisa dijadikan sebagai pengembangan kepribadian dan potensi diri. Disaat itu pula akan berlangsung secara bersamaan sebuah pencarian jati diri. Sehingga setelah seseorang menemukan jati dirinya, dengan sendirinya dia akan menemukan bagaimana cara menuju kebahagiaan sesuai dengan yang diharapkan.

2.2 Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan memiliki dua fungsi, yaitu memberikan arah dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Untuk itu, tujuan pendidikan sangatlah penting karena semua kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan ditujukan untuk pencapaian tujuan hidup.
Menurut Sutari Imam Barnadib ( 1984 : 50-51 ), dengan merangkum pendapat Langeveld, membedakan enam tujuan pendidikan yaitu :
1.      Tujuan Umum
Adalah tujuan yang akan dicapai diakhir proses pendidikan, yaitu tercapainya kedewasaan jasmani dan rohani anak didik.
2.      Tujuan Khusus
Adalah pengkhususan tujuan umum atas dasar usia, jenis kelamin, sifat, bakat, intelegensi, lingkungan sosial budaya, tahap-tahap perkembangan, tuntutan syarat pekerjaan, dan sebagainya.
3.      Tujuan Tidak Lengkap
Adalah tujuan yang menyangkut sebagian aspek manusia, misalnya aspek psikologi, biologis, atau sosiologi saja.
4.      Tujuan Sementara
Adalah tujuan yang sifatnya sementara.
5.      Tujuan Intermediet
Adalah tujuan perantara bagi tujuan lainnya yang pokok.
6.      Tujuan Insidental
Adalah tujuan yang dicapai pada saat-saat tertentu, yang sifatnya seketika dan spontan.
Menurut Bloom, tujuan pendidikan dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1.      Cognitive domain
Cognitive domain meliputi kemampuan-kemampuan yang diharapkan dapat tercapai setelah dilakukannya proses belajar mengajar.
2.      Affective domain
Berupa kemampuan untuk menerima, menjawab, menilai, membentuk, dan mengarakterisasi.
3.      Psychomotor domain
Terdiri dari kemampuan persepsi, kesiapan, dan respons terpimpin.

2.3 Hubungan antara Pendapat Ahli dengan Undang-Undang
Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya tentang pengertian dan tujuan menurut para ahli dan UU sisdiknas , maka diantara keduanya tentu memiliki hubungan dan tujuan yang erat.
Hubungan tersebut jelas terlihat karena pembuatan Undang-Undang sisdiknas pun sudah pasti meninjau dahulu pendapat dari banyak ahli, sehingga terbentuk undang-undang mengenai pendidikan yang kini menjadi landasan di Indonesia.
Seperti yang telah dikemukakan oleh Prof. Herman H. Horn, Ki Hajar Dewantara, Wikipedia, KBBI, dan masih banyak yang lainnya. Dari beberapa pengertian pendidikan menurut ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri, tidak dengan bantuan orang lain. Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkualitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita- cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan.
Sedangkan pengertian pendidikan menurut UU No. 20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Adapun fungsi pendidikan itu sendiri adalah sebagai berikut :
Ø  Alat pembangun pribadi, pengembangan warga negara, pengembangan kebudayaan, dan pengembangan bangsa Indonesia.
Ø  Menurut UUD RI No. 2 tahun 1989 bab II pasal 3 menerangkan bahwa ”Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat bangsa Indonesia dalam rangka upaya untuk mewujudkan tujuan nasional”.
Dari penjelasan yang telah dipaparkan di atas, antara pengertian pendidikan dan tujuan pendidikan yang satu dengan yang lainnya saling berkesinambungan, diantaranya “untuk mencerdaskan bangsa” sesuai dengan beberapa pendapat para ahli mengenai tujuan pedidikan yaitu untuk meningkatkan SDM dan memperbaiki moral masyarakat.


BAB III
PENUTUP

3.1  Simpulan
1.      Pendidikan adalah ;
ü  Proses transfer pengetahuan.
ü  Pengembangan kepribadian dan potensi diri.
ü  Pencarian jati diri.
2.      Tujuan Pendidikan adalah ;
ü  Mencerdaskan kehidupan bangsa.
ü  Meningkatkan potensi masyarakat.
ü  Meningkatkan SDM.
3.      Hubungan antara pendapat para ahli dengan UU sisdiknas ;
Berdasarkan pendapat yang dipaparkan oleh para ahli dan Undang-Undang sisdiknas, pendidikan memiliki visi dan misi yang sama mengenai arti dan tujuan pendidikan, dari keduanya terdapat hubungan yang saling berkesinambungan. Dengan begitu, sebuah undang-undang tidak akan melenceng jauh dengan pendapat-pendapat para ahli.

3.2  Saran
Pendidikan di Indonesia sebaiknya bisa mencetak orang-orang yang cerdas dalam hal kognitif, baik dalam hal afektif, dan bekerja secara profesional. Untuk mewujudkan itu semua maka dibutuhkan kerjasama antara beberapa pihak, terutama dari pemerintah dan guru. Pemerintah Indonesia cenderung berusaha memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia dengan cara mengubah kurikulum. Padahal hal tersebut tidaklah efisien, karena dengan pengubahan kurikulum tersebut, para guru dan murid harus beradaptasi terlebih dahulu. Seharusnya pemerintah mempunyai kurikulum tetap selama puluhan tahun ke depan, disisi lain guru pun diharapkan bisa memahami dan mengerti keadaan dan kepribadian siswanya agar tercipta suasana yang nyaman dan kondusif pada saat proses belajar mengajar. Jika kedua hal tersebut bisa dilaksanakan, maka lulusan-lulusan dari pendidikan di Indonesia adalah orang-orang yang cerdas, profesional, dan memiliki moral yang baik.





























MAKALAH URGENSI KETERKAITAN ISI, ALAT, METODE DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan suatu hal yang tidak mungkin dapat dipisahkan dari sendi kehidupan manusia, karena hanya melalui pendidikanlah manusia dapat menjadi pribadi manusia seutuhnya yang tentunya merupakan ciri pembeda dari makhluk lainnya di muka bumi. Kesempurnaan potensi yang dianugerahkan Tuhan yang Maha Esa kepada setiap manusia merupakan modal yang masih tertidur manakala pendidikan belum menyentuh atau belum berperan dalam kehidupan manusia itu. Berpatokan pada asumsi tersebut maka dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan satu-satunya upaya untuk mewujudkan hakikat penciptaan manusia yaitu sebagai makhluk pemegang amanah kekhalifahan di muka bumi.
Hakikat pendidikan akan tercapai tentunya ketika semua unsur pendidikan itu dapat terpenuhi dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Dari semua unsur pendidikan yang ada seringkali ada tiga unsur yang dapat dikatakan jarang untuk dikaji dan dikembangkan lebih mendalam. Tiga unsur itu adalah materi Pendidikan, alat dan metode pendidikan serta lingkungan pendidikan. Itulah yang menjadi latar belakang pembuatan makalah ini selain sebagai pemenuhan tugas mata kuliah pengantar ilmu pendidikan.

B.     RUMUSAN MASALAH
Hal-hal yang menjadi pokok permasalahan dalam makalah ini adalah :
a.       Bagaimana memahami dan mengembangkan isi pendidikan;
b.      Apa yang dimaksud dengan metode dan alat pendidikan;
c.       Apa yang dimaksud dengan lingkungan pendidikan;
d.      Bagaimana kaitan isi, metode, alat, dan lingkungan pendidikan.

C.    TUJUAN PEMBUATAN MAKALAH
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
a.       Sebagai sarana memahami dan mengembangkan isi pendidikan;
b.      untuk memahami pengertian dari metode, alat dan lingkunga pendidikan;
c.       Untuk memahami keterkaitan dari metode, alat dan lingkungan pendidikan dalam proses pencapaian tujuan pendidikan;
d.      Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan





















BAB II
PEMBAHASAN
A.     ISI PENDIDIKAN  
1.      Pengertian Isi Pendidikan
Pendidikan dilaksanakan di dalam suatu kesatuan hidup bersama atau masyarakat dengan sifat sosial manusia menjadi dasar bagi kesatuan hidup bersama itu. makna kehidupan manusia ditentukan oleh nilai-nilai hidup (nilai-nilai kemanusiaan) yang mendasari persatuan hidup bersama, selaras dengan asumsi  tersebut, maka tujuan akhir pendidikan ialah menjadikan peserta didik berkepribadian dewasa, yang memiliki, menghayati dan melaksanakan nilai-nilai kemanusiaan dalam hidupnya. Oleh karena itu, Driyarkara menyatakan bahwa pendidikan merupakan pengejaran dan pelaksanaan nilai-nilai. Dengan landasan tujuan akhir dari pendidikan maka dapat dikatakan bahwa  isi pendidikan ialah segala hal materi atau tindakan yang membawa peserta didik mengalami, menghayati nilai-nilai kemanusiaan, sehingga peserta didik mampu membangun nilai-nilai kemanusiaan dalam kepribadiannya.
2.      Macam-macam Isi Pendidikan
a.       Pendidikan jasmani dan keterampilan
Pendidikan jasmani dan keterampilan ini mencakup pertumbuhan fisik yang sehat, kelincahan, keterampilan,menggunakan anggota badan berkaitan dengan makanan, minuman,udara segar, istirahat, pakaian, perumahan, seks. Tujuannya agar anak didik menerima, menghargai, merawat dan melatih tubuhnya.
b.      Pendidikan seni
Pendidikan seni merupakan kegiatan pendidikan yang mengutamakan tumbuhnya rasa seni, senang akan keharmonisan, keteraturan dan kebutuhan dalam diri anak. Tujuannya agar anak didik mengembangkan rasa keindahan.
c.       Pendidikan intelektual
Pendidikan intelektual kegiatan pendidikan yang mengutamakan realisasi kemampuan intelektual anak didik dalam memecahkan masalah konkrit yang dihadapi sehari-hari. Tujuannya agar anak didik mengembangkan kemampaun berpikir dan cara mengatasi persoalan secara tepat.

B.     METODE-METODE PENDIDIKAN
Metode bisa dikatakan sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Setiap pendidik harus bisa menentukan metode pendidikan yang cocok sesuai dengan materi yang diajarkan dan kondisi peserta didik. Oleh karena itu metode pendidikan sangatlah penting dalam proses belajar mengajar. Beberapa metode yang bisa digunakan pendidik dalam mengajar antara lain metode ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan eksperiment, metode pemecahan masalah dan masih banyak lagi.
 Tetapi pada praktiknya sebagian besar pendidik terbiasa hanya menggunakan satu metode saja dalam pengajaran, yaitu metode ceramah. Metode yang seperti ini menyebabkan siswa hanya merekam informas, dan pada akhirnya siswa menjadi kurang kreatif dalam mengemukakan pendapat dan pemecahan masalah. Oleh karena itu kebiasaan pendidik dalam menggunakan metode harus segera dirubah agar pendidikan Indonesia bisa lebih berkembang. Dibawah ini adalah beberapa metode yang bisa digunakan dalam proses pembelajaran:
a.       Metode Ceramah
Metode ini merupakan metode yang paling banyak digunakan oleh pendidik karena irit waktu dan biaya. Dalam metode ini pendidik menyampaikan materi secara lisan. Metode ceramah memiliki banyak kekurangan, khususnya dalam keaktifan murid. Tetapi juga memiliki keunggulan, khususnya bila harus menerangkan materi yang banyak sedangkan waktu terbatas.
Metode ceramah cocok digunakan saat:
1.      Guru menyajikan pelajaran yang dihubungkan dengan apa yang telah diketahui siswa sebelumnya;
2.      Guru memberikan ringkasan suatu materi;
3.      Guru memberikan materi yang sulit didapat siswa dari sumber yang lain;
4.      Guru ingin membangkitkan semangat siswa pada suatu materi;
5.      Guru akan menjelaskan suatu grafik, tabel, atau skema.
Sebelum menggunakan metode ceramah guru harus memperhatikan beberapa hal diantaranya:
1.      Membatasi waktu;
2.      Menentukan pokok masalah;
3.      Menyusun beberapa pertanyaan ke siswa;
4.      Menyusun alat evaluasi.
Setelah persiapan selesai, guru juga perlu memperhatikan hal-hal dalam penyampaian ceramah, yaitu:
1.      Keterangan yang singkat dan jelas;
2.      Menggunakan gerakan badan;
3.      Penampilan yang menariK
4.      Menggunakan papan tulis, ikhtisar, dan chart.
5.      Memerinci bahan pelajaran;
6.      Memberi kesempatan pada anak didik untuk bertanya.

b.      Metode tanya jawab
Metode tanya jawab adalah suatu metode dimana guru memberi suatu pertanyaan ke murid atau sebaliknya. Metode ini dapat dilakukan bersamaan dengan metode ceramah, diskusi, demostrasi, dan lainnya dengan tujuan meningkatkan kemampuan berfikir dan keaktifan murid. Dalam memberi pertanyaan, guru harus bisa melihat sejauh mana murid mengerti suatu materi sehingga guru harus menyesuaikan sejauh mana murid memahami suatu materi.
Metode tanya jawab sangat baik bila digunakan saat:
1.      Guru hendak meletakkan hubungan antara pelajaran yang lalu dengan pelajaran yang baru;
2.      Guru hendak memberi kesempatan kepada murid untuk menanyakan hal yang belum dimengerti dari materi yang diajarkan;
3.      Apabila guru melihat keadaan siswa yang semakin tidak tertarik ke materi, padahal guru ingin membangkitkan minat siswa terhadap suatu pelajaran;
4.      Guru hendak mendorong aktivitas dan partisipasi siswa dalam pelajaran;
5.      Menjelang akhir pelajaran untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai suatu materi.
Keuntungan metode tanya jawab:
1.      Suasana menjadi lebih aktif;
2.      Siswa punya kesempatan untuk menanyaakan hal yang belum dimengerti;
3.      Guru dapat mengetahui sampai sejauh mana siswa memahami suatu materi;
4.      Mendorong anak berani mengajukan pendapat.
Kelemahan metode tanya jawab:
1.      Pertanyaan dari guru sering menuju pertanyaan yang bersifat hafalan;
2.      Tanya jawab kalau dilakukan terus-menerus akan keluar dari pokok materi yang sedang dipelajari;
3.      Guru tidak dapat secara pasti apakah murid yang mengajukan pertanyaan paham materi yang telah diberikan.

c.       Metode diskusi
Merupakan suatu metode dimana guru memberikan suatu pokok masalah kepada siswa, dan siswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikannya secara bersama-sama. Dalam diskusi murid dapat saling tukar informasi, menerima informasi, dan dapat pula mempertahankan pendapat dalam rangka pemecahan masalah. Dengan metode ini suasana kelas akan menjadi semakin hidup dan semua murid diharapkan berpartisipasi secara aktif. Peran guru hanya pengatur lalu lintas diskusi dan  pemecahan masalah diberikan kepada siswa.
Kelebihan metode diskusi:
1.      Memberi kesempatan pada siswa untuk menyalurkan kemampuan masing-masing, dapat mendorong siswa mengemukaan ide-ide baru;
2.      Membantu siswa untuk dapat menerapkan pengalaman teoritis dan pengalaman praktis dalam berbagai pengetahuan di sekolah;
3.      Membantu siswa untuk dapat melihat kemampuan dirinya, teman-temannya dan juga siswa dapat menghargai pendapat teman;
4.      Mengembangkan motivasi anak untuk belajar lebih lanjut.

Kelemahan metode diskusi:
1.      Sering terlalu banyak menyita waktu;
2.      Sulit untuk menangkap inti masalah, terutama bagi siswa SD;
3.      Sering dalam diskusi yang aktif hanya beberapa siswa, sedang yang lain hanya mendengarkan saja.

d.      Metode demonstrasi dan eksperiment
Metode ini sangat efektif dalam menolong siswa, seperti bagaimana cara membuat sesuatu. Metode demonstrasi dan eksperiment sering digunakan guru secara berangkai. Metode demostrasi yaitu guru memperlihatkan sesuatu proses kepada seluruh anak didiknya. Sedangkan metode eksperiment adalah guru atau siswa mengerjakan sesuatu serta mengamati proses dan hasil percobaan itu.

Beberapa keuntungan metode demonstrasi yaitu:
1.      Siswa akan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai suatu proses sesuatu yang telah didemonstrasikan;
2.      Perhatian siswa akan lebih mudah dipusatkan pada hal-hal yang sedang dibahas sehingga proses belajar menjadi maksimal;
3.      Dapat mengurangi kesalahpahaman persepsi antara guru dan murid;
4.      Akan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan apa yang telah didemonstrasikan;
Kekurangan metode demostrasi.
1.      Bila kurang persiapan maka akan kurang waktu pelaksanaan, kesulitan teknis, dan kurang adanya kesempatan bagi anak untuk bertanya;
2.      Kadang terjadi proses yang berlainan dengan proses sebenarnya;
3.      Kurang efektif bila tidak diikuti secara aktif oleh siswa;
4.      Kurang efektif bila alat demonstrasi kurang diamati secara seksama oleh siswa;
Dan metode eksperiment menjadi kurang efektif bila:
1.      Terbatasnya alat yang tersedia sehingga setiap siswa tidak mendapat kesempatan untuk melakukan eksperment;
2.      Kurangnya pengetahuan guru dan pengalaman guru yang melakukan eksperiment sehingga eksperiment kadang hanya bersifat kaku dan kurang menunjang terhadap materi yang ingin dibahas;
3.      Kadang anak belum pernah sama sekali melakukan eksperiment sehingga kadang guru menemui kesulitan dalam melaksanakan eksperiment;

e.       Metode pemecahan masalah
Sebenarnya dengan mempelajari metode eksperiment kita sudah dapat memahami apa yang dimaksud dengan pemecahan masalah. Sebab langkah kerja dan prosedur kerja keduanya sama. Sebagai metode mengajar, maka metode ini sangat baik untuk pembinaan sikap ilmiah kepada anak-anak. Sebab dengan metode ini, anak-anak belajar memecahkan masalah menurut prosedur kerja metode ilmiah.

Keunggulan metode ini, antara lain:
1.      Mempertinggi partisipasi anak baik secara perseorangan maupun secara kelompok;
2.      Membina sikap ilmiah kepada anak-anak;
3.      Mempunyai nilai-nilai yang fungsional, karena metode ini dapat dipergunakan untuk menghadapi berbagai situasi yang problematis dalam kenyataan hidup yang selalu mengalami perubahan dan kemajuan;
4.      Siswa belajar memecahkan masalah secara ilmiah.
Kelemahan metode ini antara lain:
1.      Kurangnya pengetahuan dan pengalaman guru;
2.      Kurangnya persiapan yang matang.;
3.      Perumusan masalah yang kurang baik sehingga batas-batas masalah kurang jelas;
4.      Anak-anak tidak terlatih atau tidak dipersiapkan untuk aktivitas belajar semacam ini;

C.    ALAT PENDIDIKAN
Alat pendidikan adalah usaha atau perbuatan si pendidik untuk mencapai tujuan tertentu. Macam alat pendidikan pada dasarnya adalah segala perlengkapan yang dipakai dalam usaha pendidikan yang disebut alat pendidikan. Alat pendidikan disamping sebagai perlengkapan, juga sebagai pembantu mempermudah terlaksananya tujuan pendidikan.
Berdasarkan wujudnya alat pendidikan di bagi menjadi 2 yaitu:
1.      Perbuatan pendidik1 yaitu alat yang bersifat non material karena tidak terwujud atau dalam istilah komputer sering di sebut software ( perangkat lunak). Perbuatan pendidik di bagi 2 yaitu mengarahkan dan mencegah. Mengarakan yaitu memberikan masukan kepada peserta didiknya utuk melakukan kegiatan atau perbuatan ke hal-hal yag positif atau tidak menyimpang. Contohnya: menasihati, memberi teladan, membimbing, perintah, pujian dan hadiah. Mencegah adalah mengantisipasi hal-hal yang buruk atau akibat yang di timbulkan.Contohnya : melarang atau mencegah, menegur, mengancam bahkan menghukum.
2.      Benda untuk alat bantu dalam pendidikan2[1] atau alat peraga, bersifat material karena berwujud benda. Contohnya: peralatan di laboratorium fisika (seperti: jangka sorong, micrometer sekrup, pegas), alat tulis (seperti: buku tulis, pensil, bolpoin) dll.
 Supaya tercapainya alat pendidikan yang baik harus memenuhi berberapa syarat diantaranya:
a.       Tujuan pendidikan/ Tujuan yang ingin dicapai
Misalnya: indikatornya peserta didik harus bisa menggunakan alat ukur micrometer sekrup maka pendidik harus memberikan contoh yang benar dalam penggunaannya supaya tujuan praktikum bisa tercapai dan berjalan lancer.
a.       Pendidik
Pendidik harus mengethui karakter masing-masing peserta didik supaya lebih bisa beradaptasi dengan baik engan peserta didiknya.
b.      Peserta didik
Peserta didik harus bisa menerima penggunaan alat dari pendidik dan todak merugikan peserta ddiknya/
c.       Penggunaan alat tersebut
Efektifitas penggunaan alat tersebut dengan tidak melahirkan efek tambahan yang merugikan, berupa tindakan pendidik diantaranya memberikn teladan contoh, pujian/ hadiah, perintah, larangan, teguran, hukuman.

Berikut aplikasi penggunaan alat pendidikan yang tampak dalam bentuk tindakan dalam kegiatan proses pembelajaran:
1)      Teladan.
2)      Anjuran dan perintah
3)      Larangan.
4)      Pujian dan hadiah.
5)      Teguran.
6)      Peringatan dan ancaman.
7)      Hukuman ( diadakan karena adanya pelanggaran, bertujuan agar tidak terjadi pelanggaran kembali ).

D.    LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Lingkungan pendidikan adalah tempat dimana tempat tersebut dapat mendukung terlaksananya pendidikan, dikenal isttilah tripusat lingkungan pendidikan3[2] yaitu keluarga, masyarakat dan sekolah
Macam-macam lingkungan pendidikan :
1.      Lingkungan pendidikan dalam keluarga
Lingkungan pendidikan dalam keluarga mempunyai arti penting karena keluargalah anak dididik oleh orang tua. Keluarga sebagai media dalam masyarakat terbentuk berdasarkan sukarela dan cinta antar manusia. Dalam keluarga ini merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama karena manusia pertama kalinya memperoleh pendidikan dari lingkungan keluaraga sebelum mengenal lingkungan yang lainnya.
Bentuk – bentuk tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya meliputi:
a.       Motivasi cinta kasih yang menjiwai hubungan orangtua dengan anaknya;
b.      Motivasi kewajiban moral orangtua terhadap anak;
c.       Tanggung jawab sosial sebagai bagian dari keluarga.

2.      Lingkungan pendidikan dalam masyarakat
Manusia dalam bekerja dan hidup sehari-hari akan selalu berupaya memperoleh manfaat dari pengalaman hidupnya itu untuk meningkatkan kemampuan dirinya, tak terkecuali belajar dari lingkungan masyarakat. 
            Berikut beberapa contoh pembelajaran di lingkungan masyarakat
a.       Memahami kebiasan adat suatu masyarakat yang berkaitan dengan etika ataupun yang lainnya akan membantu kita dalam beradaptasi dengan masyarakat tersebut;
b.      Dengan memahami setiap perbedaan yang ada dalam masyarakat majemuk akan menumbuhkan rasa toleransi yang tinggi;
c.       Semangat gotong royong dalam kehidupan masyarakat akan menjadi motivasi tersendiri bagaimana menjalani hidup dengan sebaiknya.

3.      Lingkungan pendidikan formal
Lingkungan pendidikan formal merupakan suatu wadah atau instansi yang menjadid fasilitas utama pendidikan formal mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. pesatnya perkembangan peradaban manusia, dan kehidupan masyarakat yang semakin komplek, menyebabkan kebutuhan akan pendidikan formal semakin besar dan merupakan sarana utama untuk mempersiapkan diri dalam kancah persaingan dunia modern
Tanggung jawab lembaga pendidikan formal antara lain:
a.       tanggung jawab formal kelembagaan;
b.      tanggung jawab keilmuan;
c.       tanggung jawab fungsional.

E.     KETERKAITAN ANTARA ISI, METODE, ALAT, DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Peningkatan mutu dalam pendidikan sangat dibutuhkan suatu bangsa yang ingin maju karena dengan pendidikan yang bermutu dapat menunjang pembangunan dalam segala bidang. Pendidikan merupakan upaya sadar atau disengaja yang diberikan oleh pendidik kepada anak didik agar mencapai kedewasaan. Karena itu selain harus mempunyai dasar dan tujuan pendidikan yang jelas yang dapat menentukan kearah mana anak didik akan dibawa,  pendidik pun harus memiliki isi dan metode pendidikan yang sesuai bagi anak didiknya. Serta alat yang memenuhi dan lingkungan yang mendukung.
            Pendidikan juga tak lepas dari istilah integrasi-interkoneksi. Suatu pendidikan yang dilengkapi dengan seluruh komponen yang dibutuhkan akan memberikan kualitas yang lebih baik dari pada pendidikan yang substansi-substansinya tidak begitu dilengkapi. Manusia dengan beragam fasilitas seharusnya dapat memanfaatkan keadaan ini sebaik mungkin. Pendidikan dengan  substansi isi, metode, alat, dan lingkungannya strategis dan komprehensif serta ber-integrasi-interkoneksi antara satu dengan yang lain akan menghasilkan pendidikan dengan kualitas  yang lebih baik.
Keterangan tentang isi, metode, alat, dan lingkungan pendidikan telah dijelaskan secara gamblang dan terperinci pada pembahasan-pembahasan sebelumnya. Isi, metode, alat, dan lingkungan pendidikan memiliki peran vital dalam membangun substansi pendidikan. Masing-masing substansi harus bisa saling bekerjasama dan berelasi satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan pendidikan karena isi, metode, alat, dan lingkungan pendidikan adalah satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan dalam proses pencapaian suatu tujuan pendidikan.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
             Pendidikan sebagai suatu upaya untuk memurnikan hakikat penciptaan manusia bukanlah suatu proses yang singkat dan sederhana. pendidikan merupakan proses yang mutlak harus dialami setiap manusia sepanjang hidupnya baik itu melalui pendidikan formal, nonformal maupun informal. Tujuan dari ketiga ranah pendidikan tersebut bermuara pada satu hal yang sama yaitu menjadikan manusia seutuhnya. Tujuan ini akan didapat manakala berbagai hal pendukungnya berfungsi sebagaimana mestinya. Isi pendidikan, metode pendidikan, alat pendidikan dan keterkaitan antar ketiganya merupakan hal yang wajib dipenuhi ketika kita ingin mencapat tujuan proses pendidikan tersebut. Berlandaskan pada asumsi tersebut maka dapat dikatakan bahwa efektifnya proses pendidikan akan sangat bergantung pada keahlian kita dalam mengolah, memanfaatkan, serta mengkreasikan isi, metode dan alat pendidikan.











DAFTAR PUSTAKA
Purwanto M. Ngalim, 2004. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sumitro, dkk. 2006. Pengantar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press
Sutomo, 2005. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional
Tirtarahardja Umar, S.L.La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
.


[1] Sumitro dkk. Pengantar Ilmu Pendidikan 2006 Hlm 79
2 Ibid
3 Umar Tirtarahardja Pengantar Pendidikan 2005 hlm 166