Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS.Al-Ahzab:21)

Jumat, 10 Oktober 2014

makalah pendekatan CTL (contextual teaching and learning)


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dalam wacana pendidikan ada dua hal yang dibutuhkan yakni teori dan praktik. Semua teori akan diturunkan dari teori yang ada pada tiga kategori ilmu, yaitu humaniora, ilmu alam, dan ilmu social. Ada tiga prinsip yang merupakan definisi pembelajaran, yaitu: pertama, belajar menghasilkan perubahan perilaku anak didik yang permanen. Kedua, anak didik memiliki potensi dan kemampuan yang merupakan benih kodrati yang mampu dikembangkan tanpa henti. Ketiga, perubahan dan pencapaian kualitas ideal itu tidak akan tumbuh linear sejalan dengan proses kehidupan.
Untuk memahami teori dan implementasinya dalam dunia pendidikan, ada empat konsep yang saling terkait yaitu teaching, learning, instruction, dan curriculum. Dengan merujuk pada keempat hal tersebut dalam CTL guru berperan sebagai fasilitator, yakni membantu siswa menemukan makna (pengetahuan). Setiap materi disajikan memiliki makna yang beragam, yakni dengan menghubungkan materi dengan lingkungan.
Pembelajaran dan pengajaran kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning) adalah salah satu topic hangat dalam dunia pensisikan saat ini. CTL memiliki potensi untuk menjadi lebih dari sekedar noktah pada praktik di ruang kelas. CTL menawarkan jalan yang dapat diikuti oleh seluruh siswa menuju keunggulan akademis. Hal ini karena CTL sesuai dengan cara kerja otak dan sesuai dengan prinsip-prinsip yang mendukung system kehidupan. CTL justru menyatukan konsep dan praktik.
Penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana cara pandang baru yang muncul dari pengetahuan, mengubah sikap kita dari pendidikan. Pendidikan tradisional menekankan pada penguasaan dan manipulasi isi. Para siswa menghapalkan fakta, angka, nama , tanggal, tampat, dan kejadian; mempelajari mata pelajaran secara terpisah satu sama lain; dan berlatih dengan cara yang sama untuk memperoleh kemampuan dasar dan berhitung.
Oleh karena itu pada abad ke-20 yang beranggapan bahwa kenyataan ada dalam hubungan-hubungan yang melihat bahwa suatu kesatuan melebihi jumlah dari bagian-bagiannya, para pendidik sekarang merasa perlu berpikir ulang tentang cara mengajar. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual sebagai sebuah system mengajar didasarkan pada pikiran bahwa makna muncul dari hubungan antara isi dan konteksnya. Konteks memberikan makna pada isi. Semakin banyak keterkaitan yang ditemukan siswa dalam suatu konteks yang luas, semakin bermaknalah isinya bagi mereka. Jadi, sebagian besar tugas seorang guru adalah menyediakan konteks. Semakin mampu siswa mengaitkan pelajaran-pelajaran akademis dengan konteks ini, semakin banyak siswa mendapatkan makna dari pelajaran tersebut. Pencarian makna merupakan hal ilmiah. Seperti sebuah system kerja otak yang terus menerus mencari makna dan menyimpan hal-hal yang bermakna, proses mengajar harus melibatkan siswa dalam pencarian makna. [1]













BAB II
ISI

A.            Pengertian
Contextual Teaching Learnng merupakan suatu proses pembelajaran holistik yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna (meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, baik berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, social, ekonomi maupun kultural. Sehingga  peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat dapat diaplikasikan dan ditransfer dari satu konteks permasalahan yang satu kepermasalahan lainnya.
Tokoh Teori kontekstual
Contextual teaching and learning banyak dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. Aliran filsafat konstruktivisme berangkat dari pemikiran epistimologi Giambatista Vico (Suparno, 1997). Vico mengungkapkan: “Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaannya.” Mengetahui, menurut Vico, berarti mengetahui bagaimana membuat sesuatu. Artinya, seseorang dikatakan mengetahui manakala ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu. Oleh karena itu menurut Vico, pengetahuan itu tidak lepas dari orang (subjek) yang tahu. Pengetahuan merupakan struktur konsep dari subyek yang mengamati. Selanjutnya, pandangan filsafat kontruktivisme tentang hakikat pengetahuan mempengaruhi konsep tentang proses belajar, bahwa belajar bukanlah sekedar menghafal, melainkan proses mengkontruksikan pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil “pemberian” dari orang lain seperti guru, tetapi hasil proses mengkonstruksi yang dilakukan setiap individu. Pengetahuan hasil dari pemberian tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna.
Pandangan pakar pedagogi tentang teori perkembangan kontekstual:
1.      Dun Hull
Penerapan kaidah pembelajaran yang berangkat dari toeri perkembangan kontekstual memberikan implikasi positif terhadap keterlibatan siswa dalam sekolah. Efektifitas pembelajaran meningkat secara signifikan ketika mereka diajarkan mengapa mereka mempelajari konsep dan bagaimana konsep-konsep dapat digunakan diluar kelas, dan akan semakin efektif ketika mereka diizinkan untuk bekerja sama dengan yang lain dalam kelompok atau tim.

  1. John Dewey
Menurut John Derwey, rancangan formula kurikulum akan lebih maksimal jika kerangka formula tersebut mengambil titik acuan berupa perkembangan kontekstual yaitu Kurikulum dan metode pembelajaran yang terkait dengan pengalaman dan minat anak.
  1. Howard Gardner
Implikasi dari konsep perkembangan kontekstual mengarah pada definisi belajar sebagai proses yang kompleks yang tidak dapat ditangani secara memadai melalui drill-oriented (metode stimulus atau respon).
  1. Geoffrey Caine
Teori Perkembangan kontekstual akan mengarahkan sasaran dan metode pembelajran dengan karakteristik pencarian makna melalui hubungan yang masuk akal dan cocok dengan pengalaman masa lalu sebagai hakikat pembelajarannya.
  1. Jonassen
Jonassen menawarkan konsep belajar yang berangkat dari teori perkembangan kontekstual yaitu belajar dari tugas yang terletak dibeberapa tugas dalam dunia nyata, atau dirangsang melalui beberapa lingkungan belajar berbasis kasus atau berbasis masalah.
  1. D.A. Kolb
Suasana belajar yang mengambil teori perkembangan kontekstual sebagai basisnya yaitu suasana pelajaran yang melibatkan berbagai pengalaman yang mungkin dalam konteks sosial, budaya, fisikal dan psikologi.

B.   Pandangan Belajar Menurut Pendekatan Kontekstual
1.     Proses Belajar
a.     Belajar tidak hanya menghafal, akan tetapi mengalami dan harus mengkonstruksikan pengetahuan.
b.     Ilmu pengetahuan merupakan kumpulan fakta-fakta atau proposisi yang integral, dan sekaligus dapat dijadikan keterampilan yang dapat diaplikasikan.
c.      Peserta didik memiliki sikap yang berbeda dalam menghadapi situasi baru dan dibiasakan belajar menemukan sesuatu bagi memecahkan masalah dalam kehidupannya.
d.     Belajar secara kontinu dapat membangun struktur otak sejalan dengan perkembangan pengetahuan dan keterampilan yang diterima.
2.     Pentinganya Lingkungan Belajar
a.     belajar  yang efektif harus berpusat pada peserta didik sehingga memahami bagaimana peserta didik menggunakan pengetahuan dan keterampilan baru.
b.     Kerjasama kelompok peserta didik merupakan hal yang utama dalam menumbuhkembangkan kebiasaan sharing dalam team learning.
c.      Penilaian begitu penting supaya memberikan feedback kepada peserta didik.

C.   Karakteristik CTL
Karakteristik Contextual Teaching Learning adalah sebagai berikut:
1.      Kerjasama antar peserta didik dan guru (cooperative).
2.      Saling membantu antar peserta didik dan guru (assist).
3.      Belajar dengan bergairah (enjoyfull learning).
4.      Pembelajaran terintegrasi secara kontekstual.
5.      Menggunakan multimedia dan sumber belajar.
6.      Cara belajar siswa aktif (student active learning).
7.      Sharing bersama teman (take and give).
8.      Siswa kritis dan guru kreatif.
9.      Dinding kelas dan lorong kelas penuh dengan karya siswa.
10.  Laporan siswa bukan hanya buku rapor, tetapi juga hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan sebagainya.




D.    Langkah-Langkah Pembelajaran Kontekstual
 Pembelajaran kontektual merupakan  konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong  siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yaitu kontruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian autentik.
      Sebuah kelas dikatakan menggunakan model CTL jika ketujuh komponen tersebut terpenuhi dalam pembelajarannya. Secara garis besar penerapan CTL dalam kelas adalah sebagai berikut:
1.      Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2.      Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topic.
3.      Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4.      Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).
5.      Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6.      Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7.      Lakukan penilaian sebenarnya dengan berbagai cara.

E.     Prinsip-Prinsip CTL
1.                  Kesaling-Bergantungan (Independensi)
Prinsip ini membuat hubungan yang bermakna (making meaningfull connections) antara proses pembelajaran dan konteks kehidupan nyata sehingga peserta didik berkeyakinan bahwa belajar merupakan aspek yang esensial bagi kehidupan di masa datang.
Prinsip ini mengajak para pendidik mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik yang lainnya, peserta didik, stakeholder, dan lingkungannya.
Bekerjasama (collaborating) untuk membantu peserta didik belajar secara efektif dalam kelompok, membantu peserta didik untuk berinteraksi dengan orang lain, saling mengemukakan gagasan, saling mendengarkan untuk menemukan persoalan, mengumpulkan data, mengolah data, dan menentukan alternatif pemecahan masalah.
Prinsipnya menyatukan berbagai pengalaman dari masing-masing peserta didik untuk mencapai standar akademik yang tinggi (reaching high standards) melalui pengidentifikasian tujuan dan memotivasi peserta didik untuk mencapainya.
2.                  Perbedaan (Diferensiasi)
Prinsip diferensiasi adalah mendorong peserta didik menghasilkan keberagaman, perbedaan, dan keunikan. Terciptanya kemandirian dalam belajar (self-regulated learning) yang dapat mengkonstruksi minat peserta didik untuk belajar mandiri dalam konteks tim dengan mengkorelasikan bahan ajar dengan kehidupan nyata, dalam rangka mencapai tujuan secara penuh makna (meaningfullness).
Tercapainya berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking) di kalangan peserta didik dalam rangka pengumpulan, analisis, dan sintesa data, guna pemecahan masalah.
Terciptanya kemampuan peserta didik untuk mengidentifikasi potensi pribadi, dalam rangka menciptakan dan mengembangkan gaya belajar (style of learning) yang paling sesuai sehingga dapat mengembangkan potensinya seoptimal mungkin secara aktif, kreatif, efektif, inivatif, dan menyenangkan sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
3.                  Pengaturan Diri
Prinsip pengaturan diri menyatakan bahwa proses pembelajaran diatur, dipertahankan, dan disadari oleh peserta didik sendiri, dalam rangka merealisasikan seluruh potensinya. Peserta didik secara sadar harus menerima tanggung jawab atas keputusan dan perilaku sendiri, menilai alternatif, membuat pilihan, mengembangkan rencana, menganalisis informasi, menciptakan solusi dan dengan kritis menilai bukti.
Melalui interaksi antarsiswa akan diperoleh pengertian baru, pandangan baru sekaligus menemukan minat pribadi, kekuatan imajinasi, kemampuan mereka dalam bertahan dan menemukan sisi keterbatasan diri.
4.                  Penilaian Autentik (Authentic Assessment)
Penggunaan penilaian autentik, yaitu menantang peserta didik agar dapat mengaplikasikan berbagai informasi akademis baru dan keterampilannya ke dalam situasi kontekstual secara signifikan.



F.      Pendekatan CTL
1.                  Problem-Based Learning
Yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai suatu konteks sehingga peserta didik dapat belajar kritis dalam melakukan pemecahan masalah yang ditujukan untuk memperoleh pengetahuan atau konsep yang esensial dari bahan pelajaran.
2.                  Authentic Instruction
Yaitu pendekatan pembelajaran yang memperkenankan peserta didik mempelajari konteks kebermaknaan melalui pengembangan keterampilan berpikir dan melakukan pemecahan masalah di dalam konteks kehidupan nyata.
3.                  Inquiry-Based Learning
Yaitu pendekatan pembelajaran dengan mengikuti metodologi sains dan memberi kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
4.                  Project-Based Learning
Yaitu pendekatan pembelajaran yang memperkenankan peserta didik untuk bekerja mandiri dalam mengkronstruksi pembelajarannya (pengetahuan dan keterampilan baru),  dan mengkulminasikannya dalam produk nyata.
5.                  Work-Based Learning
Yaitu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari bahan ajar dan menggunakannya kembali ditempat kerja.
6.                  Service Learning
Yaitu pendekatan pembelajaran yang menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru dan berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui tugas terstruktur dan kegiatan lainnya.
7.                  Cooperative Learning
Yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil peserta didik untuk bekerjasama dalam rangka mengoptimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.

G.    Faktor-Faktor yang Dipertimbangkan dalam CTL
1.                  Merencanakan pembelajaran sesuai dengan perkembangan mental (developmentally appropriate) peserta didik.
2.                  Membentuk kelompok belajar yang saling bergantung (interdependent learning groups).
3.                  Mempertimbangkan keberagaman peserta didik (disversity of students).
4.                  Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri (self-regulated learning) dengan tiga karakteristik umumnya, yaitu kesadaran berpikir, penggunaan startegi, dan motivasi berkelanjutan.
5.                  Memperhatikan multi-intelegensi (multiple intelli-gences)
6.                  Menggunakan teknik bertanya (questioning) dalam rangka meningkatkan peserta didik dalam pemecahan masalah dan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
7.                  Mengembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna jika ia diberi kesempatan untuk belajar menemukan dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru (contructivism).
8.                  Memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry), supaya peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri.
9.                  Mengembangkan rasa ingin tahu (curiusity) di kalangan peserta didik melalui pengajuan pertanyaan (questioning).
10.              Menciptakan masyarakat belajar (learning community) dengan membangun kerjasama di antara peserta didik.
11.              Memodelkan (modelling) sesuatu agar peserta didik dapat beridentifikasi dan berimitasi dalam rangka memperoleh pengetahuan dari keterampilan baru.
12.              Mengarahkan peserta didik untuk merefleksikan tentang apa yang sudah dipelajari.
13.              Menerapkan penilaian autentik (Authentic assessment)




H.    Komponen CTL
1.                  Konstruktivisme (Constructivism)
CTL dibangun dalam landasan konstruktivisme yang memiliki anggapan bahwa pengetahuan dibangun peserta didik secara sedikit demi sedikit (incremental) dan hasilnya diperluas melalui konteks terbatas.
Peserta didik harus mengkonstruksi pengetahuan baru secara bermakna melalui pengalaman nyata, melalui proses penemuan dan mentransformasi informasi ke dalam situasi lain secara kontekstual. Oleh karena itu, proses pembelajaran merupakan proses mengkronstruksi gagasan dengan strateginya sendiri bukan sekedar menerima pengetahuan, serta peserta didik menjadi pusat perhatian dalam proses pembelajaran (child centre).
2.                  Menemukan (Inquiry)
Proses pembelajaran yang dilakukan peserta didik merupakan proses menemukan (inquiry) terhadap sejumlah pengetahuan dan keterampilan. Proses inquiry terdiri atas:
a.       Pengamatan (observation);
b.      Bertanya (questioning);
c.       Mengajukan dugaan (hiphotesis);
d.      Pengumpulan data (data gathering);
e.       Penyimpulan (conclussion).
3.                  Bertanya (Questioning)
Proses pembelajaran yang dilakukan peserta didik diawali dengan proses bertanya. Proses bertanya yang dilakukan peserta didik sebenarnya merupakan proses berpikir yang dilakukan peserta didik dalam rangka memecahkan masalah dalam kehidupannya.
Proses bertanya begitu berarti dalam rangka:
a.       Membangun perhatian (attention building);
b.      Membangun minat (interest building);
c.       Membangun motivasi (motivation building);
d.      Membangun sikap (aptittude building);
e.       Membangun rasa keingintahuan (curiusity building);
f.       Membangun interaksi antarsiswa dengan siswa;
g.      Membangkitkan interaksi antara siswa dengan guru;
h.      Interaksi antara siswa dengan lingkungannya secara konstekstual;
i.        Membangun lebih banyak lagi pertanyaan yang dilakukan siswa dalam rangka menggali dan menemukan lebih banyak informasi (pengetahuan) dan keterampilan yang diperoleh oleh peserta didik.
4.                  Masyarakat Belajar (Learning Community)
Proses pembelajaran merupakan proses kerjasama antara peserta didik dengan peserta didik, antara peserta didik dengan gurunya, dan antara peserta didik dengan lingkungannya.
Proses pembelajaran yang signifikan jika dilakukan dalam kelompok-kelompok belajar, baik secara homogen maupun secara heterogen sehingga didalamnya akan terjadi berbagi masalah (sharing problem), berbagi informasi (sharing information), berbagi pengalaman (sharing experience), dan berbagi pemecahan masalah (sharing problem) yang memungkinkan semakin banyaknya pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh.
5.                  Pemodelan (Modelling)
Proses pembelajaran akan lebih berarti jika didukung dengan adanya pemodelan yang dapat ditiru, baik yang bersifat kejiwaan (identifikasi) maupun yang bersifat fisik (imitasi) yang berkaitan dengan cara untuk mengoperasikan sesuatu aktivitas, cara untuk menguasai pengetahuan atau keterampilan tertentu.
Pemodelan dalam pembelajaran bisa dilakukan oleh guru, peserta didik, atau dengan cara mendatangkan narasumber dari luar (outsourcing), yang terpenting dapat membantu terhadap ketuntasan dalam belajar (mastery learning) sehingga peserta didik dapat mengalami akselerasi perubahan secara berarti.
6.                  Refleksi (Reflection)
Refleksi dalam pembelajaran adalah car berpikir tentang apa yang baru dipelajarinya atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan atau dipelajarinya di masa lalu. Refleksi pembelajaran merupakan respons terhadap aktivitas atau pengetahuan dan keterampilan yang baru diterima dari proses pembelajaran. Peserta didik dituntut untuk mengedepankan apa yang baru dipelajarinya sebagai wujud pengayaan atau revisi dari pengetahuan dan keterampilan sebelumnya.
Guru harus dapat membantu peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan demikian, peserta didik akan memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya mengenai apa yang baru dipelajarinya.
Kuncinya adalah bagaimana pengetahuan dan keterampilan itu mengendap di jiwa peserta didik sehingga tercatat dan merasakan terhadap pengetahuan dan keterampilan baru tersebut.
Pada akhir proses pembelajaran sebaiknya guru menyisakan waktu agar peserta didik melakukan refleksi, yang diwujudkan dalam bentuk:
a.       Pernyataan langsung peserta didik tentang yang diperoleh hari itu;
b.      Jurnal belajar di buku pribadi peserta didik;
c.       Kesan dan saran peserta didik mengenai pembelajaran hari itu.
7.                       Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
Penilaian merupakan proses pengumpulan data yang dapat mendeskripsikan mengenai perkembangan perilaku peserta didik. Pembelajaran efektif adalah proses membantu peserta agar mampu mempelajari (learning to learn) bukan hanya menekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.
Oleh karena itu, penilaian menekankan pada proses pembelajaran, data yang dikumpulkan dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan pembelajaran. Kemajuan belajar peserta didik dinilai dari proses, tidak semata dari hasil. Oleh karena itu, penilain authentic merupakan proses penilaian pengetahuan dan keterampilan (performasi) yang diperoleh siswa di mana penilai tidak hanya guru, tetapi juga teman siswa atau pun orang lain.
Adapun karakteristik dari penilaian autentik (authentic assessment) sebagai berikut:
a.       Penilaian dilakukan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
b.      Aspek yang diukur adalah keterampilan dan performasi, bukan mengingat fakta apakah peserta didik belajar? Atau apa yang sudah diketahui peserta didik?
c.       Penilaian dilakukan secara berkelanjutan, yaitu dilakukan dalam beberapa tahapan dan periodik, sesuai dengan tahapan waktu dan bahasannya, baik dalam bentuk formatif maupun sumatif.
d.      Penilaian dilakukan secara integral, yaitu menilai berbagai asepek pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik sebagai satu kesatuan utuh.
e.       Hasil penilaian digunakan sebagai feedback, yaitu untuk keperluan pengayaan (enrichment) standar minimal telah tercapai atau mengulang (remedial) jika standar minimal belum tercapai.

BAB III
PEMBAHASAN

CTL adalah suatu pengajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari. Penerapan CTL dalam pembelajaran fisika bertujuan agar siswa mendapatkan manfaat dalam berpikir dan bertindak. Fisika tidak akan lepas dari fenomena alam.
Langkah-langkah pembelajaran model kontekstual (CTL) sebagai berikut:
1.      Kontruktivisme
Pada dasarnya siswa memiliki pengalaman berdasar fenomena fisika. Menggali pengetahuan mereka dengan bertanya (apersepsi) sebagai pemancing mengumpulkan jawaban siswa. Materi gerak parabola. Memulai dengan tanya jawab antara guru(G) dan siswa(S).
G: “Pernahkah kalian bermain sepak bola?”
S: “Pernah”.
G: “Apa yang kalian lakukan sebelum menendang bola?”
S: (ada bermacam-macam jawaban)
Dst…
Cuplikan apersepsi tersebut memperlihatkan bahwa pada dasarnya siswa memiliki pengetahuan dari apa yang mereka alami. Namun, pengetahuan tersebut belum utuh dan lengkap terlihat dari jawaban siswa yang hanya berdasar apa yang siswa lihat.
2.      Pemodelan
Pada langkah ini guru mendemonstrasikan suatu fenomena sebagai perantara siswa untuk kegiatan inquiry. Guru memperagakan dengan permainan angry bird sebagai salah satu fenomeena tentang gerak parabola.
3.      Bertanya
Pertanyaan dapat diajukan oleh siswa atau guru.
4.      Inquiri
Siswa bereksperimen menggunakan alat peraga gerak para bola sehingga siswa dibebaskan untuk menemukan sendiri pengetahuannya.
5.      Masyarakat Belajar
Membuat kelopok diajukan pertanyaan agar mereka diskusi.
6.      Refleksi
Mempersentasikan hasil diskusi.
























BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
A.    Contextual Teaching Learnng merupakan suatu proses pembelajaran holistik yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna (meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, baik berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, social, ekonomi maupun kultural
B.     Karakteristik Contextual Teaching Learning adalah sebagai berikut:
11.  Kerjasama antar peserta didik dan guru (cooperative).
12.  Saling membantu antar peserta didik dan guru (assist).
13.  Belajar dengan bergairah (enjoyfull learning).
14.  Pembelajaran terintegrasi secara kontekstual.
15.  Menggunakan multimedia dan sumber belajar.
16.  Cara belajar siswa aktif (student active learning).
17.  Sharing bersama teman (take and give).
18.  Siswa kritis dan guru kreatif.
19.  Dinding kelas dan lorong kelas penuh dengan karya siswa.
20.  Laporan siswa bukan hanya buku rapor, tetapi juga hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan sebagainya.
C.     . Secara garis besar penerapan CTL dalam kelas adalah sebagai berikut:
8.      Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
9.      Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topic.
10.  Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
11.  Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).
12.  Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
13.  Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
14.  Lakukan penilaian sebenarnya dengan berbagai cara.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA


Hanafiah, Nanang dkk. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Refika Aditama.

Johnson, Elaine. 2007. Contextual teaching & learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar
            Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung: MLC.

Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.







[1] Elaine, Johnson. Contextual teaching & learning. (Bandung: MLC, 2007), 31-59

Tidak ada komentar:

Posting Komentar